KULINER

 

Cita Rasa dan Keunikan Makanan Khas Banyumasan

Banyumas, Purwokerto selain terkenal dengan tempat wisatanya juga terkenal dari makanan khasnya seperti Soto Sokaraja yang berbeda dari soto pada umumnya, lalu mendoan dengan ciri khasnya, dan juga ada kampel yang cukup unik komposisinya. Tanggal 27 Maret 2022 saya yang mengikuti program Kampus Mengajar angkatan 3 yang ditempatkan di purwokerto, banyumas tepatnya di Desa Tumiyang turun ke lapangan untuk menjalankan tugas. Saat disekolahan saya dan teman sekelompok disuguhkan makanan cemilan yaitu kampel. Tentu kami bertanya-tanya makanan apa itu dan terbuat dari apa, tanpa piker panjang kami langsung memakan dengan teh hangat yang juga sudah disediakan. Dari bentuknya kampel seperti tahu isi namun ternate sangat berbeda mulai dari rasa maupun bahan pembuatanya, ternyata kampel terbuat dari tahu gembus yang warnanya sudah menghitam dan dipadukan dengan lontong kemudian dicelupkan pada adonan tepung lalu digoreng, untuk rasanya sendiri saya tidak begitu suka karena hambar dan sedikit rasa asin dari adonan tepung itu sendiri, namun cocok untuk mengganjal perut yang masih kosong belum diisi sarapan pada pagi hari karena di kampel terdapat lontong yang merupakan sumber karbohidrat dengan memakan dua atau tiga kampel saja sudah membuat perut kita kenyang.

Di lain hari saat istirahat di ruang guru bersama kepala sekolah dan guru-guru yang lain kami disuguhkan makanan yang pastinya banyak orang yang sudah tahu makanan ini yaitu mendoan. Mendoan atau bisa disebut tempe goring merupakan tempe yang digoreng dengan adonan tepung yang dibumbui biasanya ketika masih hangat memiliki tekstur krispi dan garing diluar namun akan menjadi lembek jika sudah dingin, berbeda dengan mendoan khas banyumas yang memiliki tekstur lembek seperti setengah matang dan potonganya besar-besar yang membedakan dengan mendoan pada umumnya. Namun mendoan khas banyumas ini saat kita makan akan terasa tekstur yang sedikit krispi dan empuk di dalamnya, dan rasanya yang sangat enak membuat saya ketagihan untuk mengambilnya lagi dan lagi, dengan dicocolkan sambal kecap yang didalamnya terdapat potongan cabai menambah kenikmatan disetiap gigitanya. Dan yang lebih unik lagi mendoan ini jika dimakan dengan porsi yang lumayan banyak tidak membuat kita enek atau mual, berbeda dengan mendoan pada umumnya yang jika dikonsumsi cukup banyak dapat membuat kita merasa mual setelah memakanya dikarenakan minyak yang ada pada mendoan tersebut.

Waktu berjalan hampir 2 bulan di sana namun belum juga mendapat kesempatan untuk mengicipi atau merasakan soto sokaraja khas purwokerto yang terkenal berbeda dari soto pada umumnya. Dikarenakan letak warung makan yang menyediakan menu soto sokaraja lumayan jauh dari kontraan tempat kami tinggal. Namun disaat menjelang libur kenaikan kelas dosen pembimbing kami berkunjung kesekolahan untuk silaturahmi kesekolahan bertemu dengan kepala sekolah dan guru-guru yang lain serta memantau apakah program kerja yang kami jalankan dapat terlaksana semua dengan baik. Setelah semuanya selesai dan guru-guru pulang dari sekolahan kami diajak dosen pembimbing kami yaitu Bu Pungky untuk menginap dirumahnya yang berada di purwokerto, dan kami mengiyakan untuk ikut menginap dirumahnya Bu Pungky karena sedang libur sekolah dan tidak ada kegiatan apapun. Setelah menerima ajakan itu kami langsung pulang ke kontrakan untuk berkemas dan setelah semuanya siap kami berangkat bersama-sama menggunakan mobil milik dosen pembimbing kami yaitu Bu Pungky. Diperjalanan kami diajak untuk makan siang terlebih dahulu, dan tepat sekali bu Pungky mengajak kami untuk makan siang dengan soto khas banyumas yaitu soto sokaraja. Setelah sampai di rumah makan tersebut kami memesan soto sokaraja dengan daging sapi, setelah beberapa saat menunggu akhirnya makanan siap dihidangkan, yang saya lihat pertama seperti soto sapi pada umumnya namun potongan daging sapinya lumayan besar-besar kemudian ada mangkok yang berisi sambal kacang yang masih kering seperti baru saja ditumbuk. Awalnya saya dan teman-teman sedikit kebingungan dan bertanya untuk apa sambal kacang tersebut, setelah bertanya itu, Bu Pungky menjawab kalau itu ciri khasnya soto sokaraja dengan mencampurkan sambal kacang yang teksturnya sedikit kasar dengan soto tersebut. Kemudian kami mencampurkan sambal kacang yang ada pada mangkok tersebut ke dalam soto daging sapi tadi lalu diaduk hingga merata, dan setelah memakannya ternyata lebih dari yang saya harapkan, sangat enakk walaupun berbeda dengan soto pada umumnya, jadi masih terdapat rasa bumbu sotonya tapi lebih berasa bumbu sambal kacangnya dan itu menurut saya sangat enak dari segi rasa dan teksturnya. Berbeda dengan soto pada umumnya yang biasanya ditambah dengan nasi, tapi soto sokaraja ini tidak memakai nasi tetapi diganti dengan lontong.

Komentar