SEJARAH
Kuda lumping juga disebut jaran kepang atau jathilan, adalah tarian tradisional Jawa yang menampilkan sekelompok prajurit sedang menunggang kuda. Dengan properti anyaman kuda yang dihias dengan cat dan kain beraneka warna. Tarian kuda lumping biasanya hanya menampilkan adegan prajurit berkuda, akan tetapi beberapa penampilan kuda lumping juga menyuguhkan atraksi kesurupan, kekebalan, dan kekuatan magis, seperti atraksi memakan beling atau kaca, dan kekebalan tubuh terhadap deraan pecut.
Reog Manggolo Budhoyo dikenal oleh banyak masyarakat Desa Koripan Kec. Susukan pada awal tahun 1980an. Pada tahun 1980an Reog Manggolo Budhoyo diciptakan oleh Mbah Raden joyo Kusumo dan Mbah Raden joyo Tirto. Reog Manggolo Budhoyo mengalami kefakuman pada tahun 2010-sekarang. Kefakuman yang terjadi disebabkan semakin berkurangnya jumlah penari karena dijaman sekarang ini banyak remaja yang kurang berminat akan kesenian reog ini dan memilih nongkrong bareng teman-teman sambil bermain Game online, serta banyak masyarakat di Desa Koripan yang sudah pension dari dunia tari Karena sebagian besar sudah berkeluaraga dan sudah tua, sehingga sibuk dengan pekerjaan untuk menafkahi keluarganya. Di Dalam pertunjukan, Reog Manggolo Budhoyo dipimpin atau dipandu oleh “pawang reog”. Tugas Pawang reog yaitu menemani dan mengawasi saat pertunjukan dimulai dan membantu menyembuhkan penari yang sedang kerasukan roh atau makhluk tak kasat mata pada saat pertunjukan berlangsung.
Kesenian reog Manggolo Budhoyo adalah kesenian masyarakat yang hampir menyerupai reog Jaran Kepang pada umumnya. Reog Manggolo Budhoyo dilahirkan dari Desa Koripan, Kec. Susukan, Kab. Semarang. Reog Manggolo Budhoyo biasanya ditampilkan oleh kaum laki-laki dan juga kaum perempuan yang berasal dari Desa Koripan, dan pemain reog sendiri dibagi dua grup, yang grup pertama jaranan anak-anak yang dimainkan oleh anak kecil, biasanya ditampilkan di awal pertunjukan, sedangkan grup kedua yaitu jaran kepang yang dimainkan oleh remaja dan bapak-bapak. Reog Manggolo Budhoyo biasanya dipentaskan ketika ada masyarakat yang ingin menanggap atau mengundang, dan biasanya ditampilkan saat ada acara hajatan atau penikahan dan setelah lebaran selesai.
Budaya kesenian reog kuda lumping manggolo budoyo yang diwariskan secara turun- temurun dan juga dilestarikan dari generasi terdahulu sampai generasi sekarang ini merupakan wujud peninggalan yang sangat berharga dan merupakan jati diri suatu masyarakat. Dusun krasaksari yang terletak di Desa Koripan, tepatnya di Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang menjadi salah satu pusat perhatian pelestarian budaya warisan nenek moyang yang berasal dari daerah ini. Dengan berpakaian busana seperti jaman dahulu dengan bawahan memakai kain batik yang diikat dipergelangan perut dan memakai ikat kepala serta wajah yang dirias sedemikian rupa agar lebih menarik.
Situasi dalam pertunjukan saat penyajian atau penampilan reog kuda lumping di Desa Koripan sangat meriah dan banyak didatangi warga baik itu warga Desa Koripan maupun dari luar Desa Koripan. Suasana akan sangat memanas saat salah satu penari reog kuda lumping tersebut kerasukan/ kemasukan roh yang membuat penari bisa melakukan sesuatu diluar nalar manusia seperti memakan kaca atau gelas, dan melakukan acrobat yang membuat heboh penonton yang melihatnya. Dengan diadakannya kesenian reog ini diharapkan dapat mempererat silaturahmi antar warga.
Komentar
Posting Komentar